Pa and Ma

Yustinus Lase, B.Sc ayah saya berasal dari pulau Nias yang terkenal dengan lopat batunya. Lahir pada tanggal 21 Februari 1940 sudah berada di Papua sejak tahun 1961. Kata orang-orang sih kemungkinan ayah saya ini merupakan orang Nias pertama yang datang ke pulau nan indah Papua. Orang yang satu ini kuat pada pendiriannya, dan perfectionis. Segala sesuatu harus dikerjakan sesuai dengan aturan dan prosedurnya.
Beliau sangat disiplin, keras, dan tegas. Itulah kebanggaan saya terhadapnya.
Kehadiran ayah saya di Papua berawal ketika ia bergabung dalam dinas kesehatan RI. Diterjunkan pertama kali di pedalaman Merauke - Asmat.
Tugas yang diemban saat itu adalah mensosialisasikan cara hidup yang sehat kepada masyarakat setempat.
Ada beberapa cerita menarik ketika ia bertugas dulu. Transportasi yang ada pada waktu itu adalah perahu khas suku Asmat, (panjang, sempit dan tidak ada banyak ruang untuk duduk) sementara ayah saya tidak pandai berenang. Jika menemukan buaya dalam perjalanan disepanjang sungai sudah pasti buaya tersebut akan diburu. Kalau mereka berhasil mendapatkannya, buaya tersebut akan dimasukkan ke dalam perahu bersama dengan penumpangnya. Bisa anda bayangkan bagaimana takutnya ayah saya....
Cerita lain yang lebih menegangkan adalah ketika ia dan rekan-rekannya berusaha untuk mengubah suatu tradisi yang telah dijalani masyarakat suku Asmat sejak jaman dulu.
Masyarakat Asmat saat itu tidak pernah mau menguburkan jenazah orang yang sudah meninggal, dengan alasan bahwa tanah merupakan sumber bagi kehidupan mereka sehingga tidak dapat dicemari.
Jenazah pada saat itu hanya dibaringkan di atas para-para (bale-bale) dalam waktu yang cukup lama. Cairan yang keluar dari tubuh jenazah dibiarkan menetes dan mengakibatkan bau tidak sedap yang sangat menyengat. Bau tersebut sudah pasti menjadi undangan resmi bagi para serangga seperti lalat. Pada saat itu banyak orang yang jatuh sakit bahkan meninggal dunia akibat serangan kolera, disentri, dan berbagai penyakit lainnya yang disebabkan oleh bibit penyakit yang dibawa serta oleh lalat. Tradisi yang kurang sejalan dengan prinsip hidup sehat ini yang berusaha diubah oleh tim ayah saya saat itu. Bukan cuma penolakan saja yang mereka terima, melainkan ancaman PEMBUNUHAN.
Dengan berbagai cara akhirnya saran untuk mengkremasikan jenazah pun dicoba, dan berdampak positif bagi masyarakat saat itu wabah kolera, disentri, dan lainnya perlahan mulai dapat dicegah. Pensiunan Dinas Kesehatan Prov. Papua dan PT. Askes Indonesia Cabang Maluku dan Papua ini telah jatuh cinta pada Papua sejak saat itu.

Blandina Maria Theresia Dumatubun,menjadi pilihan ayah saya sebagai pendamping hidupnya. Ibu saya ini lahir di pedalaman Merauke pada 23 Februari 1946. Ketika itu kakek saya bekerja sebagai guru di sana. Asal ibu saya dari Kei (Langgur) Maluku Tenggara. Pernah bekerja sebagai perawat di rumah sakit daerah Merauke, dan akhirnya bertemu dengan ayah saya di sana.
Kisah cinta mereka sangat berliku, ditentang oleh keluarga, hanya karena perbedaan prinsip antara keduanya. Namun... cinta ya cinta. Tak ada dapat membendungnya. Akhirnya menikah, dan direstui.

Dari hasil pernikahan kedua orang tua saya, mereka telah dikaruniai dengan 2 orang putra (termasuk saya yang tertua), 2 orang putri, serta 7 orang cucu.

Panjang umur ma, pa. Semoga Tuhan memberkati kalian.

0 comments:


Free Blogger Templates by Isnaini Dot Com and Architecture. Powered by Blogger